teks bergerak

(¯`♥´¯) .♥.•*¨Selamat Datang*♫.• ✿ ܓ(¯`♥´¯)

17 March 2012

•♥• TA’ARUF solusi pengganti PACARAN •♥•

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Buat Akhina Wa Ukhtina yang ingin TAG or SHARE PICT'a,di persilahkan "BEBAS

Silahkan Bantu sahabat'' lain ngETaG ya agar mendapat Ilmuღღ

Alhamdulillaah…..
Segala Puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian alam.Tuhan Yang Maha Rahman.Maha Rahim.. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk kekasih Allah,Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam.Allahumma Shalli wa Salim Ala Sayyidina Muhammadin wa Ala aali Sayyidina Muhammadin fi Kulli Lam Hatin wa na Fasinn bi'adadi Kulli Ma'lu Mil Lak.


Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari

Pertanyaan:

1. Apabila seorang muslim ingin menikah, bagaimana syariat mengatur cara mengenal seorang muslimah sementara pacaran terlarang dalam Islam?

2. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?

3. Bagaimana hukum seorang ikhwan (lelaki) mengungkapkan perasaannya (sayang atau cinta) kepada akhwat (wanita) calon istrinya?

Jawab :

Benar sekali pernyataan anda bahwa pacaran adalah haram dalam Islam. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.

Ikhtilath (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)

Maka, pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:

1. Ikhtilath, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid.

Dan seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Al-Bukhari. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki.

Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45)

Subhanallah. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya –karena seluruh tubuh wanita adalah aurat– sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, tanpa melakukan tabarruj karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya :

“Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena bakhur untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 53:

“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka berinteraksi sesuai tuntutan hajat dari balik hijab dan tidak boleh masuk menemui mereka secara langsung. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Maka tidak dibenarkan seseorang mengatakan bahwa lebih bersih dan lebih suci bagi para shahabat dan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan bagi generasi-generasi setelahnya tidaklah demikian.

Tidak diragukan lagi bahwa generasi-generasi setelah shahabat justru lebih butuh terhadap hijab dibandingkan para shahabat, karena perbedaan yang sangat jauh antara mereka dalam hal kekuatan iman dan ilmu.

Juga karena persaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para shahabat, baik lelaki maupun wanita, termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula, dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan berlakunya suatu hukum secara umum meliputi seluruh umat dan tidak boleh mengkhususkannya untuk pihak tertentu saja tanpa dalil.” (Lihat Fatawa An-Nazhar, hal. 11-10)

Pada saat yang sama, ikhtilath itu sendiri menjadi sebab yang menjerumuskan mereka untuk berpacaran, sebagaimana fakta yang kita saksikan berupa akibat ikhtilath yang terjadi di sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta, atau tempat-tempat yang lainnya. Wa ilallahil musytaka (Dan hanya kepada Allah kita mengadu)

2. Khalwat, yaitu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram. Padahal Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Hal itu karena tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

3. Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan.

Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan.

Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu.

Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)

Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap tidak boleh. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)

Demikian pula dengan pandangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31-30:

“Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari halhal yang diharamkan) –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan)….”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”

Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat dan fitnah yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)

Adalah para wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sekitar beliau hadir para shahabatnya, lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepentingannya dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tidak berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.

Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri.

Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Wallahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan).

Adapun cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan.

Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela.

Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda:

“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)

Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”

Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus .

Wallahu a’lam
 

13 March 2012

.... BI yang entah APE-APE...

Kadang-kadang hidup ini ibarat roda.. kite tak tau mana kite selepas ini.. jangan terlalu sombong atau meninggi diri.. yang pasti kita tak akan selesa dengan apa yang kite ade sekarang.. ari ni aku dapat asgment segera.. asgment BI... macam mana nak wat nie?? dah la x pandai.. paham ade la.. serius aku x nawok... serius2.. 




macam x biase wak asgmnt BI... hihihii... mn aku pnoh wak.. sepanjang aku hidup di politeknik.. jarang sekali aku wak asgment bi.. asgment laen ade la.. hihihi... memang la group nim ade dalam 4 orng or lebih... aku juz macam 2lis name la.. x tau la gane... bile la nak pandai BI nie... baru-baru nim pom aku amik MUET.. DAPAT band 2... macam x caye... aku tau.. itu rezeki ALLAH kepada AKU.. ALHAMDULILLAH  YA ALLAH...maybe rezeki AKU... tapi aku masih la tamak nak kan rezeki... tamak kan aku.. kalu boleh semua yang atas dunia ni pom aku nak..  (RAKUS MOLEP AYAK)..




hope satu hari nnti aku pandai BI..(orang selalu tindas aku disebbkan akuu tak pandai BI)... aku bukan orang yang pandai.. tapi aku adalah orang yang selalu bersyukur kerana dianugerahkan kepandaian dalam bidang lain...

05 March 2012

:! ummi aisyah gagal exam:!

“Kring…kring..kring…”aku bergegas mengangkat telefon. Seusai mengangkat telefon, 
kedengaran suara anak sulungku, Aisyah di talian teresak-esak menangis. “Ummi, Aisyah 


sedih,” katanya. Kaget aku seketika. Kenapa dengan anakku ini, setahu aku, Aisyah seorang yang sangat susah untuk menangis. “Aisyah, boleh ummi tahu kenapa Aisyah menangis tiba-tiba ni? Ada sesuatu yang buruk terjadi ke?” aku bertanya. “Ummi, hari tu Aisyah ada cerita kan pasal exam Aisyah yang susah. Aisyah ‘fail’ ummi.” Serentak dengan itu, makin kuat esakannya. “Aisyah , tidak mengapa, sabar Aisyah, ummi tahu, Aisyah dah berikan yang terbaik. Allah pun tahu Aisyah dah usaha sungguh-sungguh untuk paper Aisyah yang satu ni,” pujukku. “Ummi, Aisyah sedih. Kawan Aisyah banyak yang lepas ummi, Aisyah seorang saja yang tersangkut ummi,” katanya dalam sedu sedannya. “Aisyah, sabar sayang, banyakkan istighfar, nak.” Pilu hatiku mendengar esak tangisnya. Teringat aku pada peristiwa yang sama yang pernah terjadi padaku dua puluh lima tahun yang lalu. “Aisyah, tidak mengapa, gagal sekali ni bukan bermaksud gagal selama-lamanya. Aisyah masih ada peluang nak baiki mana yang silap, yakinkan mana yang ragu, sebab Aisyah masih belajar. Nanti Aisyah masih ada peluang untuk ulang semula paper ni kan?” soalku. “Ummi, tak sama ulang semula dengan tak perlu ulang semula. Aisyah malu.” “Aisyah, malu yang diajar islam bukan begitu caranya. Kita perlu malu kalau kita buat salah dengan Allah, tak ikut apa yang Allah suruh buat, buat apa yang Allah larang. Lulus atau gagal ini letaknya di tangan Allah, Allah dah tetapkan sejak azali lagi. Allah tak kisah kalau kita gagal atau lulus, tapi Allah kira usaha yang kita buat untuk jawab soalan kita,belajar, berdoa, itu semua termasuk dalam nilaian Allah. Lepas tu, keputusan itu di tangan Allah, dan kita sebagai umat islam diajar untuk redha dengan apa yang Allah dah tetapkan untuk kita selepas kita dah berusaha dan bertawakal. Sepatutnya Aisyah, kita kena rasa malu kalau kita tak percaya dengan apa yang Allah dah tetapkan untuk kita,” nasihatku. “Tapi ummi, perit sungguh rasa ni. Ummi, kenapa Aisyah ummi..Aisyah rasa tak cukup kuat pun nak hadapi ujian Allah ni,” esaknya. “Aisyah, manusia ni pertimbangannya tak jauh. Ilmunya terhad, tak pernah sama dengan ilmu Allah. Yakinlah Aisyah, kalaupun Aisyah tak nampak, bahawa ini adalah yang terbaik untuk Aisyah. Jangan cakap seperti itu nak, itu tanda orang putus asa, Allah tak suka orang yang berputus asa,” pesanku. “Aisyah, ingat tak ayat Quran yang ummi ajar Aisyah baca setiap pagi.. “Allah tidak membebankan seseorang melainkan dengan kesanggupannya….” (Al-Baqarah : 286) “Aisyah, dalam ayat ni, Allah dengan jelasnya beritahu bahawa Dia tidak akan uji kita kalau kita tak mampu. Ini kata-kata Allah Aisyah, yang tiada ragunya, yang sentiasa benar dari dulu hingga kini, kata-kata dari pencipta kita.,” katanya. “Ummi, Aisyah tahu….tapi, susahnya ummi nak terima hakikat ni,” katanya. “Aisyah sayang, ini barulah apa yang kita katakan praktikal dari apa yang kita belajar selama ini. Kalau dulu, ummi asyik ajar Aisyah teori bersabar, inilah waktunya bila mana Aisyah kena praktikkan sabar itu. Ummi tahu, ia memang manis dan sedap untuk diucapkan, tetapi hakikatnya susah untuk dilakukan. Sebab tu orang yang banyak bersabar ni ganjarannya tinggi di sisi Allah.” “Aisyah, cuba kita tengok kisah Rasulullah dulu. Sayang Allah padanya, Allah uji dengan pelbagai ujian, Allah uji dengan kaum Mekah yang tidak jemu-jemu menentangnya, Allah uji dengan perginya orang-orang yang tersayang ketika baginda sangat-sangat memerlukannya, Allah uji dengan macam-macam lagi bentuk ujian. Allah tak bagi Rasulullah kemenangan dengan mudah, kerana Allah nak ajar Rasulullah s.a.w. dan umatnya bersabar itu bagaimana. Sabarlah Aisyah, Allah sayang padamu, sebab tu Allah uji dengan ujian sebegini rupa, sebab Allah nak Aisyah lagi dekat padaNya, Allah nak bagi peluang dekat Aisyah tambah pahala berlipat ganda dengan banyak-banyak bersabar.” “Aisyah, kadang-kadang, gagal inilah yang akan memacu kita untuk lebih berjaya. Bersyukurlah sayangku, sebab Allah tunjuk kelemahan kita sejak dari mula lagi, Allah bagi kita peluang untuk baiki segala kesilapan kita dari awal supaya kita berjaya dengan cemerlang kelak. Allah ajar kita untuk pandai bahagikan masa antara kerja persatuan dan pelajaran, sebagai langkah awal sebelum menempuh alam rumahtangga yang pastinya lebih mencabar kelak.” “Ummi, Aisyah rasa Aisyah dah bagi yang terbaik ummi,”katanya. “Aisyah, sebab tu ummi kata, pengetahuan manusia ni terhad. Kita sukar untuk nampak hikmah di sebalik sesuatu peristiwa. Mungkin apa yang Allah nak didik Aisyah ialah kemenangan dan kejayaan kita bukan terletak pada banyak mananya usaha yang telah kita buat, tapi pada rahmat dan kekuasaan Allah.” “Aisyah ingat tak kisah perang Hunain di mana bilangan umat islam yang ramai tidak menjamin kejayaan mereka. Kenapa agaknya Aisyah?” tanyaku. “Kenapa ummi?” tanyanya berminat. “Kerana bilangan yang ramai itu telah menyebabkan mereka lupa untuk bergantung penuh pada Allah, mereka merasa mereka kuat dengan tentera yang banyak, walhal kemenangan itu terletak pada tangan Allah. “Samalah dengan usaha kita yang banyak. Usaha itu diibaratkan sebagai pancing untuk meraih rahmat dan redha Allah yang akan menentukan kejayaan atau kemenangan kita kelak.” ceritaku. “Ummi, Aisyah rasa Allah nak ajar Aisyah untuk jadi hamba Allah yang betul-betul hamba, tanpa ada secebis pun rasa aku hebat dalam diri. Mungkin benar apa yang ummi cakap, sebab sebelum ni Aisyah kan sentiasa senang, cemerlang dalam segala-galanya. Nombor satu dalam kelas perkara biasa, semua ‘A’, pelajar terbaik sekolah sampai mungkin Aisyah terlupa untuk mengembalikan rasa syukur itu kembali kepada Allah,” jawabnya. “Alhamdulillah, itulah yang ummi cuba sampaikan. Itulah yang dinamakan ujian dalam nikmat, yang mana kita selalu terlupa, bak Qarun yang terlupa untuk ingat Allah dengan banyaknya harta yang dimiliki.” kataku. “Nauzubillah ummi, Aisyah tak nak jadi macam tu ummi.” katanya. “Begitulah sayang, Allah suruh ambil pengajaran dari kisah-kisah terdahulu,” nasihatku. “Terima kasih ummi, Aisyah rindulah nak jumpa ummi. Baiklah ummi, Aisyah akan usaha sungguh-sungguh lepas ni dan berdoa dan berharap betul-betul pada Allah.” janjinya. “Alhamdulillah nak, kita kembalikan semuanya kepada Allah,” tambahku. “Baiklah ummi, azan dah berkumandang tu, Aisyah solat dulu. Terima kasih lagi sekali, my dearest ummi.” katanya. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ummi,” katanya menutu bicara. “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, anakku,” balasku. Gagang telefon kuletak perlahan. Tanpa kusedari, air mataku bergenang, teringat perbualanku dengan ummiku 25 tahun yang dulu, yang nasihat dan perangsangnya telah banyak membantuku menjadi seorang doctor pada hari ni. Ummi, Ana rindu ummi juga…
 sumber: iluvislam

04 March 2012

~~APA YANG ANDA TAK TAHU TENTANG SEORANG AYAH~~


Mungkin ibu lebih kerap menelefon u...tk menanyakan keadaan kita setiap



 hari..Tapi tahukah kita, sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk

menelefon kita?

Semasa kecil, ibu lah yg lebih sering mendukung kita..Tapi tahukah kita 



bahawa sebaik saja ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah 


selalu menanyakan apa yg kita lakukan seharian

Saat kita sakit@demam, ayah sering membentak "sudah diberitahu! jangan



 minum ais!".Tapi tahukah kamu bahawa ayah sangat risau.??

Ketika kita remaja, kita meminta izin untk keluar malam. Ayah dengan tegas



 berkata "tidak boleh!"..Sedarkah kita bahawa ayah hanya ingin menjaga kita?


 Kerana bagi ayah, kita adalah sesuatu yang sangat berharga.

Saat kita sudah di percayai, ayah pun melonggarkan peraturannya. Maka kita 



telah melanggar kepercayaannya...Maka ayah lah yang setia menunggu kita di 


ruang tamu dengan rasa sangat risau..

Setelah kita dewasa,ayah telah menghantar kita ke sekolah@kolej untuk 



belajar..


Di saat kita memerlukan ini-itu, untuk keperluan kuliah kita, ayah hanya 


mengerutkan dahi.tanpa menolak, beliau memenuhinya..Saat kamu 


berjaya..Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan 


untukmu..Ayah akan tersenyum dengan bangga..

Sampai ketika jodoh kita telah datang dan meminta izin untuk mengambil kita



 dari ayah..Ayah sangat berhati-hati mengizinkan nya..Dan akhirnya..Saat ayah 


melihat kita duduk di atas plamin bersama pasangan nya..ayah pun tersenyum


 bahagia..

Apa kita tahu,bahawa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis?

Ayah menangis kerana ayah sangat bahagia..Dan dia pun berdoa "Ya Tuhan,



 tugasku telah selesai dgn baik..Bahagiakan lah putra putri kecilku yg manis


 bersama pasangannya"..

Setelah itu ayah hanya akan menunggu kedatangan kita bersama cucu-cucunya 



yang sesekali dtg untuk menjenguk..Dengan rambut yg memutih dan badan 


yang


 tak lagi kuat untuk menjaga kita..

Sayang Ayah..semoga rohnya ditempatkan di syurga..amin..





Kasih Sayang Seorang Ayah Yang Tiada Bandingannya..
i lurve u ayah..

11 December 2011

:! Milik kita !:

Assalamualaikum...
Rasenye dah lame sesanagt tak buke blog nie..  rindu untuk ‘copy n paste’ NOTE dari teman-teman..
Dan bukan juga tak der cerita untuk di ceritakan.. juz  sifat MALAS to ade.. memang susahkan..  hurm.. tapi malam ni rse gatal jew tangan ( ade orang kate lau tangan gatal.. myb kita nak boleh duit.. lau lah dapat duit mase nie.. alangkah indahnya dunia.. hihihi..) padangan orang jew kot.. hiihihi..  tak der la tangan ni gatal tuk menaip la..  hihihi..
 Malam nie  aisyah nak cerita pasai “MILIK KITA”.. Pagi tadi aisyah telah dikejutkan dengan berita yang kurang enak didengar. Nak tau tak ape dia??!!!  Result telah keluar..  waaaa.. takutnye nak check....Dalam pukul 9.00 ++... classmate (sya) tepon.. bagi tau resukt dah kuor.. macam pelik la kan.. asal result kuor awal dari masa yang telah ditetapkan.. Mn la tau kot-kot dia main-main.. pas 2 try la tnye assistant yang tak bertauliah (syahir) tuk kepastian.. dan JAWAPAN nya TERBUKTI.. RESULT TELAH KELUAR.. Ape lagi capai laptop.. pappp.. pasang kelengkapan semua2.. N tungu loading... punya la lama.. MASYALLAH... sabar je la..  lau x sabar.. dah lama laptop jadi arwah.. hihih...  punya la lame.. tup.. tup.. jeng..jeng... jeng.. sila masukan no matrik dan no ic.. ngan tangan yang sejuk mcm duk lam peti ais.. tap..tap..tap..tap lantas aisyah memasukkan maklumat yang di kehendaki..
Loading time....  tunggu la sampai keluar result.. alhamdulillah.. result yang aisyah dapat tak lah secantik macam semestar-semestar lepas..  nasib badan.. sesal kemudian tiada gunanya.. tapi tetap BERSYUKUR kerana tak der yang sangkut.. ALHAMDULLILAH..  tapi masih tak puas ati lagi la tengop result.. hurm.. ( manusia tak lari daripada sifat tamak..hihihih..)  tak de la.. ni pom dah kire beruntung dapat resutl mcam ni berbanding orang kat luor sana to kan.. bersyukur sesangat.. tak nak sambung  satu semestar lagi.. ALHAMDULLILAH..    tetibe teringat  kata-kata yang indah lagi menawan ini...

 Jika sesuatu itu milik kita
sesulit apa pun jalannya..
Apa pun rintangannya..
Pasti tetap akan menjadi milik kita..

TETAPI

Jika sesuatu itu bukan milik kita,
walaupun mudah jalannya..
Walaupun kita bersusah payah..
Kita ingin mendapatkannya
tidak akan pernah menjadi milik kita
kerana memang itu bukan milik kita .

so,conclusion nya.. sehebat mana pom kita berusaha, sesusah payah mana pom belajar, sekuat mana pon study sampai lewat malam, sedikit mana pom mase tok berhibur.. banyak mana pom makan pil kecerdikan or makan kismis dan macam-macam lagi..
kalau ALLAH dah takdirkan nya macam to.. macam to la jugak... kita harus terima dengan ati yang terbuka.. sememangnya DIA tahu ape yang DIA lakukan.. mana yang terbaek dan sebaliknya.. mungkin ade hikmat disebaliknya.. tak semestinya kita akan sentiasa berada pada kedudukan yang sentiasa selesa.. kadang-kadang kite perlu berada pada tahap paling rendah bagi mengetahui perasaan dan isi hati apabila kita berada pada pada tahap yang rendah..

opsss.. asal panjang sangat ni.. haha... okey la... cukup disini saja cerita pada kali ini.. lain kali kita jumpa lagi ye... selamat beristirehat.. assalamualaikum...

 muhasabah tuk diri insan yang hina ini..
A-Allah adalah tuhan ku..
I-Islam adalah agama ku..
S-Siti nama pertama ku..
Y-Yakin akan diri ku..
A-Ayah dan Ibu semangat ku..
H-Hanya DIA yang memakbulkan doa-doa ku..

10 December 2011

:! pasangan soleh !:

Nizam menangis semahu-mahunya. Menangis melepaskan segala apa yang menyesakkan hatinya. Hatinya terasa perit yang bersangatan. Sukar baginya untuk menerima sebuah kenyataan. Dalam bilik itu, Nizam melepaskan segalanya, tidak mungkin lagi dia mampu berpura-pura tersenyum tenang.

-----------------------

Nizam mencium dahi isteri yang baru dinikahinya. Isteri yang halal baginya. Dia merasakan perasaan nyaman yang menyenangkan saat menatap wajah isterinya. Dia bersyukur kerana dikurniakan Allah akan isteri yang sangat menyenangkan hatinya.

”Abang..nanti kita bertilawah sama-sama ye? Abang cuba periksa bacaan Safi,” tanya Safi sambil membaringkan kepalanya ke riba suaminya. Nizam mengangguk sambil mengusap lembut ubun-ubun isterinya yang masih bertelekung. Dia mencium dahi dan kelopak mata isterinya. Dia sangat-sangat bersyukur kerana isterinya mahu ikut bangun menunaikan solah tahajud dengannya. Al azwaju shalihah, iaitu pasangan hidup yang sholeh merupakan antara petunjuk kebahagiaan yang dipandukan oleh Ibnu Abbas r.a.

-------------------------

Terasa lututnya kian melemah untuk terus berdiri. Nizam tetap juga menangis. Tangannya diraupkan ke muka. Perlahan, dia berdoa agar hatinya dicekalkan oleh Allah untuk menerima kenyataan ini. Berdoa supaya perit yang terasa amat menyesakkan,sirna dari hatinya. Dalam doanya, dia berterusan menangis.

------------------------

Setelah selesai memeriksa akaun perniagaannya, Nizam bersegera mengambil wuduk dan menunaikan solah taubat dan hajat dengan khusyuk sebelum bersiap untuk tidur. Sesudah memberi salam, dia terlihat isterinya yang telah nyenyak tidur. Dia tersenyum dengan pandangan kasih pada isterinya. Tiba-tiba, dia teringat bahawa ada sesuatu yang ingin dilakukannya sebelum tidur. Dia menuju ke meja dan mencapai kertas yang tercatat sesuatu. Dia cuba menghafalkan kandungan yang ditulis olehnya. Malam itu, Nizam terlena di atas meja bersama catatan di tangannya.

Awal pagi itu, Safi bangun sambil menggosokkan matanya. Dia hairan kerana suaminya tidak mengejutkannya seperti biasa. Bertambah hairan apabila suaminya tiada di sisinya. Rasa cemasnya segera hilang apabila melihat suaminya sedang tidur pada meja tulis. Safi bingkas bangun untuk menggerakkan suaminya, dan terlihat catatan yang terhimpit di tangan Nizam. Safi cuba memahami catatan itu dan matanya basah secara tiba-tiba.

Safi mengetahui suaminya tidak meminati muzik dan tidak tahu menyanyi. Pernah sekali Safi memberitahu Nizam bahawa dia sukakan sebuah lagu yang didengarinya. Hatinya sangat tersentuh apabila melihat catatan yang terhimpit di tangan suaminya adalah lirik lagu yang digemari olehnya.

------------------------

Nizam baring dan berusaha menahan emosinya. Dia mula mengaturkan kembali nafasnya dan menghilangkan isak tangisnya. Dia insaf pada dirinya yang lemah menanggung ujian. Tidak henti-henti hatinya berdoa agar dicekalkan dan dipermudahkan Allah akan apa yang telah menimpa dirinya. Walau begitu, tetap saja air matanya terus mengalir keluar dari matanya.

----------------------------------

Safi menggigil. Suhu badannya meningkat. Berulang kali keluhannya pada Nizam menyatakan dirinya sangat sejuk. Hanya Allah sahaja yang mengetahui cemas yang menyelubungi hati Nizam. Dia menyelimutkan isterinya, menyuapkan air dan ubat. Nizam menjadi tidak senang duduk dan sentiasa berjalan ulak alik di sisi Safi. Safi menolak bila diajak untuk ke hospital. Safi mengatakan dirinya hanya terkena demam biasa. Safi tersenyum melihatkan kecemasan yang melanda suaminya.

” Kenapa Safi senyum? Jangan buat abang risau.” Nizam mengerutkan dahi.
” Abang..kenapa lah tiap-tiap kali Safi sakit, mesti abang jadi macam ini. Cemas tak tentu pasal. Safi demam biasa je abang. Macam mana lah kalau nanti jadi apa-apa kat Safi. Macam mana dengan abang?” Safi masih tersenyum. Wajah pucatnya tetap ayu dipandang Nizam.
“Dah..! jom ke hospital. Kenapa takut sangat nak jumpa doctor dengan makan ubat? Bukannya doctor tu makan orang. Perangai macam budak-budak. Abang pergi ambil baju salin.” Nizam cemas.
“Taknak!” Safi kembali memejamkan matanya.

Keesokannya, Safi sihat seperti biasa. Menyediakan sarapan sambil mengejek-ngejek suaminya yang cemas semalaman.

“Demam kura! Lain kali abang taknak peduli Safi lagi.” dengus Nizam.
”Eleh..kata je taknak peduli,tapi bila Safi sakit,abang cemas tak tentu pasal..:senyum:. wekk.” Safi mengejek sambil mendekatkan mukanya kepada muka Nizam yang berpaling. Nizam melepaskan roti di tangannya lalu mencapai pipi Safi dan mencubitnya. Ditariknya Safi mendekat kepadanya, dielus lembut rambutnya.

”Kalau Safi sakit lain kali, Safi kena dengar cakap abang. Jangan buat abang risau lagi ye?” Nizam bertutur lembut. Perkataannya disulami dengan rasa kasih yang tulus.
Safi mengangguk. Dia memahami kehendak suaminya. Tapi kemudian menjauhkan dirinya dari Nizam.
”...tapi Safi suka tengok Abang risaukan Safi..hee” ejek Safi sambil berlari-lari anak.

--------------------------

Nizam bangun dan mencapai mushaf al Qur’an. Dibacanya ummul kitab dan dibukanya pada helaian surah At Taubah,surah kegemarannya. Dilapkan air matanya pada tuala kecil dan meneruskan bacaan. Perlahan, air matanya mulai mengering dan isak tangisannya berkurang. Dengan rasa tenang, Nizam cuba memahami sedikit maksud ayat-ayat yang pernah dipelajarinya. Sesekali bacaannya terhenti dan diteruskan kemudiannya.

---------------------------

“Allah s.w.t dengan kerahiman Nya telah mengurniakan pelbagai nikmat pada hambaNya. Dan nikmat yang paling mahal adalah nikmat iman dan Islam. Dengan Iman, kita mengenal siapakah Rabb yang telah menjadikan kita. Dengan Islam, kita memahami petunjuk jalan hidup yang dikehendaki Allah pada umat manusia.

Hati yang beriman, sentiasa cinta dan rindu kepada penciptaNya. Hati yang beriman sentiasa mengawasi tingkah lakunya. Hati yang beriman sentiasa berusaha memperbaiki hubungannya dengan Allah s.w.t. Hati yang beriman sentiasa beramal dengan perintahNya yang akan menjauhkannya dari azab dan murka-Nya. Hati yang beriman sentiasa mengharap rahmat dan ampunanNya.

Bersyukurkah kita akan nikmat paling mahal yang dianugerahkan Allah kepada kita? Adakah hati-hati kita sentiasa berzikir mengingatiNya dengan rasa takzim akan kebesaranNya? Pernahkah lafaz-lafaz bicara kita mengagungkan kehebatan Nya? Hati-hati kita benar-benar berserah pada ketentuanNya, menyembah pada Allah yang Esa? Sesungguhnya tiadalah yang kekal hanya melainkan Allah yang Maha Kuasa.”

Nizam menyudahkan tazdkirahnya. Safi mencapai kitab Riyadh as Solihin dalam tangan suaminya untuk disimpan. Safi bergerak dan duduk bersandar di dada suaminya. Dicapai tangan suaminya dan digenggam erat tangan suaminya.

”Safi bersyukur pada Allah sebab dikurniakan pasangan hidup seperti abang. Jiwa Safi tidak pernah kosong dari kasih sayang Allah. Abang membimbing Safi menjadi lebih dekat padaNya.” Safi bersuara lembut.

Nizam mencium ubun-ubun isterinya. ”Abang pun bersyukur sebab dikurniakan Safi sebagai isteri. Safi sebaik-baik pendorong pada abang. Safi menurutkan kemahuan abang untuk lebih bersemangat mengenalNya. Safi adalah sebaik-baik kesenangan dunia pada Abang. Alhamdulillah.”

----------------------

Nizam menyudahkan bacaannya. Dia menutup dan menyimpan mushaf al-Qur’an. Nizam kembali duduk ke atas sejadahnya dan mula beristighfar. Jiwanya terasa damai dan tenang. Rasa perit yang menyesakkan kini berubah menjadi rasa mengharap yang sangat tinggi pada rahmat Allah dalam hatinya. Nizam berterusan beristighfar sambil membenihkan rasa-rasa pengharapan . Benih pengharapan yang ingin dicambahkan dalam doanya.

-----------------------

Nizam marah. Dia beredar meninggalkan bilik dengan membawa bantal dan selimut. Disusun bantalnya di atas sofa halaman ruang tamunya. Nizam terus merebahkan badannya dan memejamkan mata. Hatinya berulang kali beristighfar untuk mengurangkan rasa marahnya. Dia berusaha mengosongkan fikirannya dan memejamkan matanya.

”Abang..kenapa abang diam? Bagitahu Safi apa yang buat abang marah? Safi tak tahu apa kesalahan Safi kalau abang diam. Abang..jangan begini abang. Mari kita tidur di bilik.” Safi mengusap-ngusap lengan suaminya. Safi sangat memahami tabiat suaminya yang tidak mahu bersuara langsung ketika marah. Tapi dia juga tahu yang suaminya akan menjelaskan segalanya ketika hatinya tenang. Safi berusaha menenangkan hati suaminya. Namun dia resah melihatkan suaminya yang seakan tidak memperdulikannya.

”Abang...jangan buat Safi begini.” Safi mencapai telapak tangan suaminya dan meletakkannya di pipinya. Diusap tapak tangan suaminya lembut pada pipinya. Safi cuba bertahan namun air matanya tetap menitis keluar dan membasahkan tapak tangan suaminya.

Dia sedikit tersentak apabila tangan suaminya bergerak perlahan mengesat air matanya. Dilihatnya wajah suaminya yang memberi perhatian mengelap titisan air matanya.

“Safi..kan banyak kali abang dah melarang Safi berchatting dengan lelaki yang Safi tak kenal. Safi dah punya suami..” Nizam memulakan bicaranya.

”..tapi Safi tak buat apa-aa...” jawapan Safi terhenti apabila Nizam menutup mulutnya lembut. Nizam terus mengesat air mata Safi yang masih mengalir.

”Abang faham Safi seorang isteri yang baik. Abang juga tahu Safi sering berchatting dengan kawan-kawan sepengajian dengan Safi. Sedikitpun Abang tak salahkan Safi. Tetapi kadang-kadang abang lihat Safi layan juga lelaki asing yang mahu berchatting sekadar suka-suka. Walaupun abang tak sangsi dan ragu pada kejujuran Safi, tapi abang tidak suka perkara begitu. Abang cemburu. Dan abang tidak senang biarkan rasa cemburu abang ini terpendam begitu sahaja dan membiarkan Safi dengan kebiasaan yang Abang tidak suka. Abang suami Safi. Abang mahu meredhai seluruh perlakuan Safi, sedikitpun abang taknak simpan rasa tidak senang pada Safi. Bukan ke Rasulullah s.a.w pernah bersabda kepada Fatimah r.ha,” Hai anakku, tidakkah engkau mengetahui bahawa kerelaan seorang suami itu juga merupakan kerelaan Allah dan kemarahan seorang suami itu juga merupakan murka Allah. Hai anakku, seorang perempuan yang beribadah menyerupai seperti ibadahnya Maryam putri Imran, Kemudian suaminya tidak merelakan kepadanya, maka Allah tidak akan menerima amal ibadah darinya. Hai anakku, amal yang paling utama bagi para wanita ialah ketaatan mereka kepada suaminya....””

Nizam memegang ubun-ubun isterinya,” Abang marah kerana nak Safi faham kehendak abang sebab abang sebelum ini dah pernah menegur Safi, maafkan abang.”

Safi terus menangis, dia menganggukkan kepalanya. ”Safi faham abang. Safi akan lebih berhati-hati pada masa akan datang. Maafkan Safi abang.”

Nizam tersenyum,”Abang maafkan. Kasihannya isteri abang ni kena buli..hee”

Safi terus menumbuk-numbuk dada Nizam. Mukanya memerah dan bingkas bangun dan berlari-lari anak menuju ke bilik, ”Abang tetap kena tidur dekat luar! Padan muka abang.”
”Aikk? Pulak?” sahut Nizam sambil ketawa kecil,lucu melihatkan telatah Safi.

---------------------------

Nizam semakin larut dalam zikirnya. Dia menyerahkan dirinya secara total kepada kehendak takdir Allah. Dia menerima segalanya dengan rasa rendah diri sebagai hamba yang lemah. Keluasan rahmat dan kasih sayang Allah tiada bertepi baginya. Pengharapan demi pengharapan telah menghidupkan hatinya daripada kegelapan akibat kesedihan dan kesengsaraan perasaannya. Aqidahnya meyakini bahawa jodoh, rezeki dan ajal sudah ditentukan Tuhannya.

Nizam membuka matanya yang redup. Dia bangun dan memperbaharui wudhunya. Nizam kembali ke biliknya dan mula berdiri untuk menunaikan solah sunat. Hatinya kini cuma mengharap pada keampunan dan rahmat Allah s.w.t. Memohon agar dilindungi Allah daripada syaitan yang direjam, Nizam memulakan solahnya.

---------------------------------------------
Nizam pulang agak lewat daripada biasa. Selepas Isyak, dia bermesyuarat dengan para ahli jemaah masjid. Pelbagai isu dan hal yang telah dibangkitkan. Tidak kurang juga laporan daripada usaha yang telah dibuat. Mesyuarat diakhiri dengan doa dan sedikit muzakarah dengan sahabatnya.

Nizam membaca sms yang diterimanya,
< Safi >
” Abang, Safi nak pergi hantar ummi sekejap. Ada hal kata ummi. Abang izinkan?”

< Nizam >
”Abang izin. Safi nanti boleh bermalam di rumah ummi,dah lewat. Esok abang singgah ambil Safi.”


Nizam berhenti di persimpangan lampu isyarat. Di sebelahnya dilihat sebuah kereta yang dipenuhi penumpang remaja. Nizam beristighfar apabila melihat pasangan muda lelaki perempuan sedang berpeluk dan bercium. Pastinya belum bernikah kerana umur yang masih bersekolah. Nizam membunyikan hon sebagai isyarat membantah perlakuan itu dan kenderaan itu terus memecut pergi. Matanya basah, hatinya geram. Sungguh para muda mudi yang bergelumang dengan maksiat tidak menyedari betapa pedih dan dahsyatnya azab Allah. Cahaya petunjuk terhijab lantaran hati yang hitam dengan dosa. Sebab itu sering dikatakan mereka kepada orang yang ikhlas menegakkan syariat Allah sebagai penyibuk dan macam-macam lagi. Hakikatnya, para pendakwah ini sama sekali tidak ingin para pemuda ini menyediakan dirinya untuk diazab Allah, menjadi bahan bakar nerakaNya. Kasih sayang manakah yang lebih unggul daripada menyelamatkan seseorang manusia yang jauh dari perintah Allah supaya mendekati, mengenal Allah. Sungguh, hidayah itu hanya milik Allah. Nizam beristighfar dan berdoa.

Nizam menerima panggilan daripada Safi.
”Assalamu’alaikum.. abang dah sampai? Safi dah tiba dekat rumah ummi. Abang, sebelum pergi,Safi dah buat bubur kacang. Abang makanlah ye? ”
”Wa’alaikumussalam Safi..abang dah nak sampai. Insya Allah,nanti abang makan lah bubur kacang Safi yang sangat sedap tu. Amboi...sampai tak sempat abang nak jawab salam..hee” usik Nizam.
” Ye lah, sebab Safi rasa tak sedap ha...”

Panggg!! Cermin depan kereta Nizam tiba-tiba retak. Entah dari mana kereta anak-anak muda tadi memecut datang dan melemparkan benda keras. Nizam bertakbir lantas memperlahankan keretanya untuk berhenti di sisi jalan. Nizam beristighfar panjang.
”Abang...abang...abang?!!! kenapa ni bang?!! Abang?!!..huhuu. kenapa ni bang?”
Nizam tersedar yang isterinya masih di dalam talian.
”Bawa berselawat Safi..bertenang.. Abang ok. Alhamdulillah. Cuma ada benda keras yang kena depan cermin kereta ni tadi. Takde apa-apa yang jadi, cermin je yang retak sikit. Abang pulang dulu ye? Nanti abang telefon lain di rumah.” Nizam menenangkan Safi.
”Ye abang. Bawa elok-elok. Nanti abang telefon Safi ye bila dah pulang?”Kedengaran Safi masih lagi risau. Suaranya masih terisak-isak menangis.
”Insya Allah,jangan menangis,nanti ummi risau. Assalamu’alaikum.” Nizam meletakkan telefon. Dilihatnya kawasan cermin hadapan yang retak seketika dan kembali meneruskan perjalanan.

Setibanya di rumah, Nizam berjalan ke dapur sambil menelefon isterinya. Dilihatnya bubur kacang yang disediakan masih panas. Nizam menggelengkan kepala sambil tersenyum apabila tiga panggilannya tidak dijawab. Mungkin Safi sedang solah untuk menenangkan dirinya. Begitulah kebiasaannya.

------------------------

”Perniagaan abang ditimpa masalah sikit. Ujian dari Allah untuk kita. Mungkin kita terpaksa susah sikit lepas ni. Abang pun mungkin akan sibuk sikit untuk selesaikan masalah ini. Safi ok?” Nizam bertanyakan isterinya.
”Alhamdulillah abang, Safi ok. Jangan lah Abang risaukan tentang Safi. Safi faham masalah abang. Apa yang dapat Safi bantu, Safi bantu. Susah senang, kita sama-sama, abang. Sentiasa harap dan doa pada Allah.” Safi berbicara dengan lembut.
”Masya Allah..terima kasih Safi. Maafkan abang kalau ada kekurangan, ada kelemahan abang selama ini dalam menjadi suami Safi.. abang..”
Safi memintas, ”Jangan cakap begitu,abang. Abang suami Safi, jodoh ketetapan Allah pada Safi. Jangan abang lemah semangat. Susah abang, susah Safi juga. Safi bersyukur sangat kerana dikurniakan abang sebagai suami Safi. Lagipun Safi sayangkan abang kerana Allah. Takkan goyah hati Safi dalam mentaati abang, suami Safi. Abang kena kuat!” kata Safi mendorong Nizam.

“Susah senang kita bersama.”

------------------------

Nizam menghabiskan bubur yang disediakan isterinya. Sedap. Isterinya seringkali tersenyum indah saat dia memuji masakannya. Nizam mencapai telefonnya. Dia bimbang mengganggu isterinya jika dia masih larut dalam bersolah. Dia yakin isterinya akan menelefonnya setelah selesai.

Seketika, hatinya menjadi sebak. Tubuhnya bergementar. Nizam berasa hairan dengan perubahan dirinya seketika tadi namun dia kembali membersihkan mangkuk bubur yang dihabiskannya.

Nizam menghantar pesanan sms kepada isterinya,
< Nizam >
” Sedapnya bubur kacang Safi. Licin abang makan. Agaknya ada tak bubur begini di jannah nanti? Hee..Telefon abang ye nanti.”

Nizam tersenyum membaca sms yang ingin dikirimnya. Nizam juga agak risau bimbangkan isterinya masih resah akan kejadian sebentar tadi. Selesai berwudhu, telefon Nizam berdering.

“Zamm…” kedengaran suara ibunya yang terisak-isak menangis. Rasa cemas segera menyelubunginya tetapi Nizam cepat-cepat beristighfar.
“Ke..kenapa..um..ummi?” Nizam gugup.
“Safi, zam.. Safi terlibat dengan kemalangan. Huu..”
”Innalillah hi wa inna ilai hi rajiun...macam mana keadaannya ummi? Macam mana dengan Safi? Macam mana dengan dia?” tanya Nizam cemas.
“ Pak Arshad bagitahu, Safi dah meninggal dalam perjalanan ke hospital. Sabar ye Zam..anak ummi..huu..”

Nizam merasakan dadanya begitu sesak. Nafasnya tercungap-cungap. Seakan udara di sekelilingnya telah menjauh darinya. Telefon terlepas dari genggamannya. Nizam terduduk. Air mata mula bercucuran mengalir.
”Ya Allah..Safi ku..Ya Allah..”

---------------------

Selesai bersolah dan berdoa. Nizam memulakan perjalanan menuju ke hospital. Sebelumnya, dia singgah mengambil ibunya dan berusaha menenangkan ibunya yang telah kehilangan menantu yang dikasihinya. Ibunya menceritakan kepada Nizam apa yang berlaku dan apa yang diceritakan Pak Arshad yang tinggal di kawasan kejadian di dalam perjalanan mereka.

Ibunya memberitahu bahawa selepas kejadian kereta Nizam dibaling benda keras, Safi menjadi begitu risau dan meminta izin dan bersalaman dengan ummi untuk pulang melihatkan keadaan Nizam. Tetapi dalam perjalanan pulang ke rumah, Safi cuba mengelak kereta yang tiba-tiba membelok masuk ke simpang. Akibatnya Safi terbabas melanggar sepohon pokok.

Nizam tabah mendengarnya.

Cerita dari Pak Arshad pula menyatakan sebelum Safi menghembuskan nafas terakhir,dia meminta Pak Arshad mengambil telefon di dalam beg bimbitnya. Safi sempat membaca sms terakhir yang dikirim dari Nizam dan tersenyum indah. Dia berpesan kepada Pak Arshad agar memberitahu Nizam untuk memaafkan segala kesalahan dan meredhai dia sebagai isterinya. Dia menghembuskan nafas terakhir dengan lafaz syahadah.

Dalam ketabahannya,air mata Nizam mengalir perlahan.

--------------------------

Perlahan, Nizam membuka kain putih yang menutupi wajah isterinya. Dia mengucupi dahi jenazah isterinya dan memandang wajah bersih Safi. Nizam mengatur nafas dan tersenyum indah memandang jenazah isterinya.

” Allah mengetahui bahawa abang telah meredhai Safi sebagai isteri yang solehah pada abang. Bagi abang, Safi adalah sebaik-baik kesenangan dunia. Safi telah mentaati perintah Allah dengan sabar melayani segala kehendak suami Safi. Abang memaafkan segala kesalahan Safi sama ada yang tersurat mahupun tersirat. Abang meredhai Safi pergi. Sungguh, Safi seorang isteri yang terbaik pada abang. Semoga Safi tergolong dalam golongan mereka yang beriman dan beramal soleh. Berbahagialah duhai isteriku,Safi..”

Rasulullah s.a.w bersabda ; ”Sesiapa saja wanita yang meninggal dunia dan suaminya meredhainya maka ia masuk syurga.” (Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim)

----------------------

”Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” - Ali Imran : 139

Kasih sayang bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi, kasih sayang menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak duri penghidupan. – Hamka.

Berbahagialah orang-orang yang beriman.
Penghujungnya adalah kebahagian, bagi setiap yang beriman pada Allah dan Rasul Nya.
----------------------------------------------- 

02 November 2011

:! cara nabi jaga kesihatan diri !:

Selalu bangun sebelum subuh   

Rasulullah mengajak umatnya untuk bangun sebelum Subuh bagi melaksanakan solat sunat, solat fardu dan solat Subuh secara berjemaah. 

Hal ini memberi hikmah yang mendalam antaranya mendapat limpahan pahala, kesegaran udara subuh yang baik terutama untuk merawat penyakit tibi serta memperkuatkan akal fikiran. 


Aktif menjaga kebersihan 

Rasulullah sentiasa bersih dan rapi. Setiap Khamis atau Jumaat, Baginda mencuci rambut halus di pipi, memotong kuku, bersikat serta memakai minyak wangi. 

“Mandi pada hari Jumaat adalah sangat dituntut bagi setiap orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan pemakai harum-haruman.” (Hadis riwayat Muslim) 

Tidak pernah makan berlebihan 

Sabda Rasulullah w yang bermaksud: “Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan).” (Muttafaq Alaih) 

Dalam tubuh manusia ada tiga ruang untuk tiga benda: Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. 

Bahkan ada satu pendidikan khusus bagi umat Islam iaitu dengan berpuasa pada Ramadan bagi menyeimbangkan kesihatan selain Nabi selalu berpuasa sunat. 

Gemar berjalan kaki 

Rasulullah berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad dan mengunjungi rumah sahabat. Apabila berjalan kaki, peluh pasti mengalir, roma terbuka dan peredaran darah berjalan lancar. 

Ini penting untuk mencegah penyakit jantung. Berbanding kita sekarang yang lebih selesa menaiki kenderaan. Kalau mahu meletakkan kenderaan, mesti letak betul-betul di hadapan tempat yang �hendak kita pergi. 

Tidak pemarah 

Nasihat Rasulullah ‘jangan marah’ diulangi sampai tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kesihatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasad, tetapi lebih kepada kebersihan jiwa. 

Ada terapi yang tepat untuk menahan perasaan marah iaitu dengan mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka hendaklah kita duduk dan apabila sedang duduk, maka perlu berbaring. 

Kemudian membaca Ta’awwudz kerana marah itu daripada syaitan, segera mengambil wuduk dan solat dua rakaat bagi mendapat ketenangan serta menghilang�kan gundah 
di hati. 

Optimis dan tidak putus asa 

Sikap optimis memberikan kesan emosional yang mendalam bagi kelapangan jiwa selain perlu banyakkan sabar, istiqamah, bekerja keras serta tawakal kepada Allah s.w.t. 







Tidak pernah iri hati 

Bagi menjaga kestabilan hati dan kesihatan jiwa, semestinya kita perlu menjauhi daripada sifat iri hati. “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari sifat-sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat-sifat mahmudah.” 

Pemaaf 

Pemaaf adalah sifat yang sangat dituntut bagi mendapatkan ketenteraman hati dan jiwa. Memaafkan orang lain membebaskan diri kita daripada dibelenggu rasa kemarahan. 

Sekiranya kita marah, maka marah itu melekat pada hati. Justeru, jadilah seorang yang pemaaf kerana yang pasti badan sihat. 
Bahagia sebenarnya bukan mendapat tetapi dengan memberi. Sebenarnya, ba�nyak lagi cara hidup sihat rasul semoga hati kita semakin dekat dengan Nabi yang amat kita rindukan pertemuan dengannya.









p/s : untuk muhasabah diri sendiri..



Cool Yellow Outer Glow Pointer